Kawah Mati, Keindahan Kawah yang tak pernah mati di jalur pendakian gunung salak

by - Maret 05, 2018


kawah mati gunung salak


Kawah Mati, Pesona Eksotis di Jalur Pendakian Gunung Salak 


Kawah mati adalah kawah yang berada di jalur  pendakian gunung salak,  Kawah Mati terletak  sebelum kawah ratu bila melakukan pendakian melalui pos pasir reugit desa pamijahan kabupaten Bogor.  Kawah Mati merupakan kawasan yang memiliki pemandangan yang indah,  spot yang cantik buat berfoto.  Di Kawah Mati banyak batang - batang pohon tumbang yang sengaja dibiarkan untuk menjaga  keasliannya.  Malang melintang,  sebagian terdapat bekas gergaji karna menghalangi jalan. 
Seperti kawasan kawah pada umumnya,  kontur tanah di Kawah Mati  adalah kontur tanah kapur bekas aliran lahar,  cenderung rapuh,  batu - batu kapur yang sebagian bila dipijak akan pecah.  Aliran air yang terdapat di Kawah Mati  tak layak konsumsi,  maka bila hendak memasak di area ini disarankan membawa air dari bawah. 

Kawah Mati bukanlah area  untuk mendirikan tenda,  malah terdapat plang yang berbunyi dilarang mendirikan tenda karna kawasan ini bukanlah kawasan yang aman untuk bermalam,  bau belerang yang menyengat meskipun kadarnya tidak setinggi di kawah ratu.

Keseruan itu bermula disini

Cerita bermula di sabtu siang, rencana kemping bareng keluarga yang sempat tertunda dari jadwal bulan lalu.  Berangkatlah kami 3 keluarga kecil yang tidak lengkap dari cimanggi depok.  Saya beserta suami dan 2 putri kami,  kakak beserta istri dan 1 putra,  adik beserta istri dan 1 putra.  Total peserta kali ini adalah ; 6 orang dewasa dan 4 anak.  Tidak lengkap,  karna bukan musim liburan,  sebagian anggota keluarga berada di pondok pesantrennya masing masing.

Start bada shalat dzuhur dari cimanggis depok.  Ngajak emak - emak kemping tuh beda - beda  tipis sama ngajak ngungsi, atau  mirip - mirip sama ngajak pulang kampung,    bawaannya banyak bangeet.  Utamanya sih logistik.  Sampai ada yang kepikiran bawa kompor dua tungku.  Kayaknya,  kalo kulkas bisa dicolok di kabel data,  kebawa juga tuh barang. 

Selesai susun - susun barang bawaan di mobil,  keangkut juga kita semua,  tadinya kepikiran kalo mobil cuma cukup buat bawaan.  Ngankot dong kita... Hahaha.  Jarak tempuh yang diperkirakan cuma dua jam dari cimanggis depok kami habiskan selama hampir 4 jam,  di selang shalat ashar udah deket - deket lokasi.  Penduduk sini bilang,  beberpa titik  macet memang terjadi setiap hari,  nggak kenal weekend atau weekday.  Disarankan buat yang masih terjangkau motor,  mending pakai motor aja deh. 

kawah mati gunung salak



Camping Ground Kawah Ratu


Sampailah kita di pintu gerbang gunung bunder,  harga tiket masuk 15.000 per orang,  lanjut  jalan aspal yang bagus kira - kira 2 km ketika kami berkunjung kesini awal maret 2018. tambah jalur aspal yang udah rusak kurang lebihnya 2 km juga sampai deh kita ke camping groud, harga tiket masuknya 25.000 per orang.  namanya camping ground kawah ratu.  Pasir Reugit. Udah hampir gelap waktu kita mendirikan tenda disini,  karna weekend,   lumayan banyak temen kami kemping kali ini,  area nya luas,  bersih,  ditengah barisan pohon pinus. Fasilitas mck yang cukup memadai,  mushalla kecil.   Kalau nggak bawa tenda,  bisa sewa di sebelah kiri sebelum pos masuk camping ground. 

kawah mati gunung salak

Dan tenda kami pun berdiri,  3 buah tenda doom yang saling berhadapan.  Waktunya buka perbekalan,  selain bikin minuman yang menghangatkan badan,  ada nasi lengkap beserta lauknya,  disinilah letak enaknya ngajak emak - emak kemping.  Ayam dan ikan goreng,  telor asin,  sambal goreng cumi,  kerupuk jengkol,  lengkap beserta lalap timun dan sambelnya.  Kayak lagi piknik di monas gitu deh.  Nggak terasa Adzan isya terdengar,  turun ke mck sebentar yang jaraknya nggak sampai 100 meter dari tenda kami,  sholat di mushalla,    cuci piring di aliran anak sungai,  dan kembali ke tenda buat,  makan lageee .  Kali ini menu mie instan,  menu favorit pendaki gunung.  Hari ditutup dengan istirahat,  biar besok seger memulai pendakian.  Dingin malam ini terasa begitu menggigit sampai ke sumsum tulang,  padahal lengkap jaket,  kaos kaki,  sarung tangan dan sleeping bag dipakai. 

Mulai Pendakian Kawah Mati


Alhamdudillahiladzi ahyaana badama amatana wa ilaihi nusuur.  Adzan shubuh di camping ground membangunkan tidur nyenyak kami,  sejuk nya sumber air gunung salak membasahi kulit - kulit kami,  sumber air gunung salak  terkenal hingga banyak perusahaan air mineral mengclaim air nya bersumber dari gunung ini.  Selesai sholat,  mck,  sarapan,  kami mulai pendakian,  pengalaman pertama buat anak - anak. 


kawah mati gunung salak

Kami mulai pendakian ini jam 6.30 pagi,  awalnya kami rencanakan sebelum shubuh,  tapi karna jumlah lampu penerangan nggak sebanyak jumlah anggota akhirnya diundur sedikit lebih siang,  dan karna ini pendakian pertama buat anak - anak.  Jalur gunung salak lewat pos pasir reugit pada waktu musim hujan sebagiannya benar benar tertutup air.  Jalur yang di banyak titik tergolong berat buat pemula.  Sedikit jalan landai,  dominan batu dan berkali - kali menyeburkan diri ke aliran air,  tanjakan- tanjakan yang cukup tinggi untuk jangkauan kaki.  Perjalanan yang luar biasanya buat kami serombongan. 





Beberapa kali dari kami terpeleset,  tercebur ke kubangan lumpur ketika pijakan kaki nggak kuat,  termasuk saya yang terpeleset dan berubah posisi dari berdiri menjadi duduk sempurna,  buat anak - anak,  tercebur itu menyenangkan,  karna kita bakal minggir ke aliran air yang ada di kanan kiri jalur pendakian buat bersih - bersih. Di awal - awal pendakian,  bila ada 2 jalur pilihan,  lewat air atau pinggiran yang kering,  kelompok emak - emak akan memilih jalur kering demi menyelamatkan kaos kaki,  belakangan nggak bisa lagi,  karna akhirnya dibanyak titik nggak ada lagi pilihan,  selain harus  ikut ngobak dengan gembira. 





Pelajaran Berharga dari pendakian ke Kawah Mati



kawah mati gunung salak
Dari perkiraan 2 jam,  kami menghabiskan waktu 3,5 jam.  Begitu banyak kejadian yang mengasah banyak rasa bila mendaki secara rombongan.  Diperlukan kerja sama yang baik,  ketahanan fisik yang prima,  empati pada sesama peserta pendaki bila ada diantara kami yang terluka,  terjatuh,  atau pusing tiba - tiba.  Kami harus bisa saling menyemangati pada anggota kelompok yang kelelahan dan merasa mustahil sampai di atas sana, kesabaran yang lebih pada kejadian - kejadian diluar dugaan,  saling menunggu anggora rombongan yang gantian kelelahan,   pengendalian emosi akan sangat terlihat pada kondisi - kondisi sulit dan letih,  semua rasa ini dapat diolah secara bersamaan pada satu moment pendakian.  Untuk mencapai satu tujuan diperlukan usaha maksimal,  nggak ada yang instan. 

kawah mati gunung salak



Alhamdudillah,  Allah izinkan kami sampai di Kawah Mati, cuaca cerah dan tidak hujan sama sekali,   melihat jalur mendaki dan menuruni bukit terjal,  sulit dipercaya anak - anak penah sampai disana.  Sesampainya di Kawah Mati, kami  buka perbekalan dan masak bekal yang sudah kami bawa,  menghangatkan perut,  dan mengisi tenaga untuk kembali turun ke camping ground.  Moment foto - foto nggak mungkin terlewat,  walaupun banyak kawah sudah kami datangi,  inilah kawah dengan pengorbanan yang luar biasa yang kami kunjungi selama ini,  dan Alhamdudillah Allah sampaikan kami lengkap serombongan tanpa kurang apapun.  Kelelahan anak - anak hingga mereka sempat tertidur  diatas matras selagi masakan dibuat.  Terselip bangga pada mereka,  telah menyelesaikan banyak pelajaran pendakian kali ini,  pantang mundur di dera lelah. 


Kembali Ke Camping Ground Kawah Ratu


Waktunya turun,  pukul 11.45 persisnya kami mulai perjalanan kembali ke camping ground,  sebagian titik di area Kawah Mati  harus dilalui ekstra hati - hati,  memilih pijakan pada bongkahan batu yang besar saja.  Masuk ke area hutan sebagian kami bisa berlari,  keceriaan anak - anak hendak kembali bermain air di sepanjang jalurnya,  Kami menghabiskan waktu selama 2 jam saja,  tidak banyak berhenti untuk istirahat seperti ketika mendaki karna harus berkali kali mengatur nafas.  Perjalanan kami akhiri dengan berendam di Curug Buluh,  tidak jauh dari tenda kami,  dingin sumber air gunung salak meluruhkan  lelah kami. 



Bersiap Pulang

Persis adzan ashar selesai sholat kami mulai berkemas,  membongkar tenda dan memindahkan semua barang bawaan,  menaruh sampah di tempatnya sudah pasti,  menjaga kebersihan dan kelestarian alam dimanapun tempat yang kita kunjungi.  
Pelajaran dan kenangan yang kami bawa pulang,  nggak ketinggalan baju kotor dan pegal - pegal sekujur badan,  tapi itu nggak pernah bikin pendaki kapok untuk kembali bertualang. 

Sering Kau berikan kesempatan olah raga rekreasi mendaki,  harusnya cinta kami lebih terpatri padaMu yaa Rabb.  Robbigfirlanaa,....  Cinta kami tak pernah sesempurna nikmatMu.  Jadikan kami manusia yang dapat mengambil hikmah dari tiap kejadian yang Kau takdirkan atas kami. Terima kasih atas pelajaran perjalanan ini. 

You May Also Like

12 komentar

  1. sang petualang5 Maret 2018 07.29

    dahsyat..

    BalasHapus
  2. Itu menu makanannya lengkap bener, lebih komplit drpd warung nasi kayaknya hahahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu belum ditulis semua, kalo ditulis semua bisa merubah judul jadi warteg di kaki gunung salak hahaha

      Hapus
  3. Hemm... Good idea. Bisa sepertinya ya buka kantin disana...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa banget kolaborasi sama penduduk setempat

      Hapus
  4. ❄Iya lgkp yah bekalnya 😄
    ❄Foto abah yg dibackground batu2 itu, gede2 bgt yah si batu 😭😭
    ❄Liat foto Hanum cantik rambutnya ❤, kaget liat nanjaknya pake sendal pejit 😄😄Gpp kah ?
    ❄The last but not the latest, Ummi Ari K ❤ tetap awet mudeee ❤❤

    BalasHapus
    Balasan
    1. ada mpek - mpek, peyek, dan masih banyak yang belom ketulis haha, iya, batunya besar besar, cuma aku yang pake sepatu, sebenernya savety pake sepatu, tapi medannya harus keluar masuk kali, ada untungnya pake sendal

      Hapus
  5. Aku dah lama bgt ga kesini lagi,terakhir jaman SMP. Itu jg ngos-ngosan..
    Itu anak kecil kuat amat,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, bolak - balik buka perbekalan dan istirahat sepanjang jalan, buat yang nggak biasa olah raga, jalur ini cukup berat

      Hapus
  6. Ah ini beneran gunung salak ?!
    o ternyata wujudnya kayak gini ya. aku dari dulu pengen mendaki gunung salak tapi ga ada temenya.
    Yang ada dipikiranku gunung salak eta serem, Treknya curam dan lain2 dan lain2

    BalasHapus
  7. Serius ini gunung salak lewat pasir reugit, jalur curam setelah kawah mati, naik turun bukit, kalau musim hujan lebih seru lagi, banyak jalan tertutup air. Tapi malah jadi seruu

    BalasHapus