Riba, Nikmat Membawa Sengsara

by - Maret 29, 2018

riba nikmat membawa sengsara


Riba, Kesenangan Yang Semu 


Entah mengapa antusias betul diri ini bila harus menuturkan tentang Riba, satu perkara yang begitu dibenci Allah,  Bila banyak orang sepakat untuk say no to zina,  tapi tidak untuk hal yang satu ini. padahal seringan - ringan dosanya adalah setara berzina dengan ibu kandung.  Naudzubillah.   Bukan karna pakar dibidangnya,  tapi pengalaman yang mengajarkan banyak hal rasanya ingin saya bagi kepada semua orang agar mendapat manfaatnya juga. 


Riba Membinasakan 


Bukan bersih dari transaksi riba,  saya pun pernah bersinggungan dengan transaksi berbau riba,  sampai teguran Allah datang lewat sebuah artikel yang di share seorang teman.  Ringkasan tulisan mas saptuari sugiharto,  seorang penggiat anti riba dari  yogyakarta yang tulisannya  menyadarkan banyak orang,  termasuk saya.  Barakallah mas sap. 
Bukan perkara mendesak kami bertransaksi dengan riba, bukan tak punya uang untuk makan atau biaya menyekolahkan 4 anak,     tapi perkara ingin agar usaha kami lebih cepat berkembang dengan cara mengambil pinjaman bank untuk menambah alat - alat berat.  Nastagfirullah,  Tsumma Nastagfirullah.

Order yang banyak tak membuat kami merasa cukup,  ada saja masalah sepanjang perjalanan usaha,  perasaan tidak pernah puas dengan apa yang sudah dihasilkan.  Migrain yang hampir selalu muncul di tanggal - tanggal mendekati gajian karyawan.  Ada yang salah dengan apa yang sudah kami usahakan selama ini.  Akhirnya kami berusaha mencari akar dari pohon  masalah ini,   nyatanya bersinggungan dengan riba adalah penyebabnya. Kesalahan  yang oleh  sebagian orang,  termasuk kami pada saat itu tak tampak sebagai sesuatu yang fatal,  Bukankah dengan menambah beberapa mesin cetak,  kendaraan operasiaonal adalah usaha yang sangat  wajar untuk sebuah perusahaan?  Yah,  sangat wajar.  Tapi ternyata mengambil  pinjaman dengan lembaga keuangan yang menerapkan sistem riba lah biang dari semua masalahnya.  Pemberi pinjaman,  yang meminjam,  yang mencatatkan pinjaman, ,  semua sama kedudukannya,  sama - sama pelaku riba,  dan semua pelaku riba di sebutkan adalah orang - orang yang menantang berperang dengan Allah.  Tak mungkin mendapatkan kemenangan. 

Alhamdulillah Allah begitu memudahkan niat kami meninggalkan semua yang berbau riba,  menyelesaikan cicilan ke lembaga riba.  Sungguh,  janji Allah nggak pernah salah,  bila kita meninggalkan sesuatu karna Allah,  maka akan Allah berikan gantinya dengan yang lebih baik lagi,  ketenangan yang luar biasa.  Hal yang paling mahal yang kami rasakan, nggak ada lagi rasa tidak puas pada capaian - capaian tertentu yang mengganggu tidur,  cicilan ke bank yang seolah tak kunjung selesai,  dan migrain di tanggal - tanggal mendekali gajian seolah sembuh dengan sendirinya.   sesuatu  yang tidak pernah kami rasakan sebelumnya.


Beberapa Kisah dari mereka yang bersinggungan dengan Riba


Hidayah Itu Belum Sampai 

Bercerita seorang teman yang  dalam sebuah perjalanan wisata  duduk sebangku denganku,  pekerjaannya di sebuah lembaga keuangan yang  menerapkan sistem riba,  ia faham betul itu,  ketika aku menawarkannya membaca buku mas saptuari,  jawabnya sudah khatam berkali - kali.  Pekerjaan suaminya pun cukup mapan,  hidup dalam materi yang berkecukupan.  Lalu ketika pertanyaan pamungkasku adalah mengapa tidak segera resign?  Jawabnya,  "nanti di rumah mau ngapain ?"  Hiks. Sungguh aku berusaha keras  menemukan korelasi antara sudah Khatam berkali - kali membaca dahsyatnya bahaya riba dan jawaban  di rumah mau ngapain?.   Tiba - tiba terbayang olehku tumpukan baju kotor,  gosokan dan cucian piring yang nggak ada habisnya,  Rumah yang bolak - balik berantakan  walaupun di sapu berkali - kali, anak - anak yang pulang sekolah minta di jemput ummi,  dan membuatkan makanan - makanan kesukaan mereka menjadi  daya tarik tersendiri buatku untuk betah berlama - lama dirumah, di samping menulis yang membutuhkan waktu tentunya.  jadi,   kalau pertanyaannya di rumah mau apa?  Ternyata aku punya seribu satu jawaban yang bisa dengan sangat cepat kuutarakan.  Bukankah bila Allah mengehendaki kebaikan pada diri seseorang,  Ia jadikan seseorang itu faham akan ilmu agama,  dan tentu saja mempraktekkannya.? Lepaskan dulu yang haram,  sesuatu yang Allah tidak ridha.  Bukankah cita cita tertinggi kita adalah Ridha Nya? 


Dari Yang Merindu  HidayahNya

Cerita lain yang nggak kalah menarik asalnya dari seorang  teman yang Suaminya  memilih resign dari kedudukannya sebagai   Kepala Cabang di sebuah bank ternama di Indonesia.  Alih2 tersadar dari ngerinya bahaya riba,  ternyata alasan resign nya adalah karna desakan orang tuanya yang telah paham betul akan bahaya riba.  Bertutur dalam kisahnya semoga kelak suatu saat pemahaman sang suami akan bahaya riba benar - benar  jadi kenyataan.  Aamiin.  Doaku untukmu ukhti.  Doa dan keinginannya untuk berlepas dari interaksi dengan riba Allah jawab di saat hatinya pasrah,  hanya Allah saja yang maha membolak balikkan hati,  dan semua menjadi nyata ketika sang suami resign dari puncak kariernya.  Mengirinya dengan doa tentu saja,  bukankan niatmu untuk benar - benar terlepas dari segala sesuatu berbau riba telah tercatat sebagai satu niat baik.?  Perasaan tidak nyaman menjadi bukti kasih sayang Allah buatnya.  

Perubahan besar terjadi dalam hidupnya,  nggak sampai sebulan pasca sang suami resign dari pekerjaannya,  putranya yang mengalami keterlambatan bicara secara tiba - tiba menunjukkan banyak perkembangan yang signifikan.  Berbulan bulan menemaninya terapy wicara ke  berbagai tampat terbaik yang mampu ia jangkau,  menghabiskan tidak sedikit waktu,  biaya dan juga tenaga.  Kesembuhan itu seakan datang seiring dengan keinginan dan usaha berlepas dari riba,  Allahu Akbar,  tak ada yang sulit bagiMu yaa Allah.  Engkau hanya mengingikan kami meninggalkan semua hal yang Engkau larang. 


Yang Telah Berhasil Mengalahkan Dunianya


Dan yang paling menguras air mata saya adalah pengalaman seseorang yang memutuskan resign dari puncak kariernya sebagai Kepala Personalia di sebuah perusahaan jasa telekomunikasi  yang juga menerapkan sistem riba,  sogok menyogok demi mendapatkan proyek menjadi hal biasa disana,   Sungguh Allahlah yang maha menghendaki segala sesuatu terjadi,  harta yang berlimpah,  fasilitas mewah tak mendatangkan ketenangan sama sekali di hari - hari nya. Pergi ke kantor di pagi buta,  memaksanya menghabiskan waktu fajar yang teramat berharga di jalan,  dan kembali kerumah disaat semua anggota keluarga terlelap.  Kecukupan akan materi harus dibayar mahal dengan menukarkan sebagian besar waktu hidupnya,  seperti tak mendapatkan keberkahan akan waktunya.  Gelisah,  nuraninya berontak,  terfikir sesegera mungkin mengakhiri aktifitasnya di tempatnya bekerja,  bukankan ajal tak menunggu taubat kita?   Rajinnya mengikuti kajian dan akhirnya Allah membukakan mata hatinya dan mengokohkan langkahnya untuk memilih ridhoNya saja,  meleleh saya menuliskannya,  teringat kisah sahabat - sahabat Rosul yang memilih Allah dan Rosulnya di atas dunia.  

Meninggalkan gaji besar dan fasilitas mewah yang menjadi impian banyak orang,  sungguh Allah maha menggerakkan hati hambaNya.  Memulai lagi  usaha dari nol,  mau belajar segala sesuatunya dari awal lagi.  Barakallah,  jika Allah sudah dihati,  apalah yang bisa membuat hati berduka.  Ketenangan menjalani hari,  menjadi bayarannya


Hidayah itu mahal,  andai hidayah itu bisa dibeli,  tentu sudah kubeli berkeranjang -  keranjang,  dan kubagikan kepada semua orang yang aku sayang.  ( imam syafii)

You May Also Like

6 komentar

  1. Saya juga pernah merasakan, baru ngucap lgs di tampar yang di Atas hehehehehe...

    BalasHapus
  2. alhamdulillah sudah bisa berlepas yaa

    BalasHapus
  3. Emang bener sih, saya juga pernah mengalami hal yang sama, lebih banyak mudharatnya daripada keuntungannya

    BalasHapus
  4. yess, mudharatnya sampai ke akhirat

    BalasHapus